METODE KOMIK SURAH PENDEK AL QUR’AN

“Membimbing siswa senang berinteraksi dengan Al Qur’an” merupakan misi sekolah nomer 3 di SDIT Al Uswah Surabaya. Sebagai sekolah islam terpadu, pembelajaran Al Qur’an termasuk program unggulan di sekolah. Selain siswa dituntut untuk mampu menghafal Al Qur’an minimal 3 juz setelah lulus jenjang SD, siswa juga dibekali sertifikasi tahsin dari lembaga UMMI Foundation, dan pelajaran bahasa Arab.

Khusus untuk pelajaran bahasa Arab, mulai jenjang kelas 4, siswa akan bertemu dengan Ustadzah Fita Amidanal Hikmah, S.Th.I sebagai guru bahasa arab mereka. Beliau berkesempatan membagikan Metode Belajar Surah Pendek Al Qur’an yang dimuat di koran nasional Jawa Pos pada hari Rabu, 9 Agustus 2017. Sebagai guru bahasa Arab, Ustadzah Fita memiliki ciri khas sendiri dalam mempermudah siswa untuk tidak sekedar menghafal kosakata sehari-hari dan percakapan. Ada juga pemahaman kandungan surah-surah pendek Al Qur’an melalui metode komik.

Dalam wawancaranya, Ustadzah Fita menyampaikan bahwa menciptakan metode pembelajaran lebih utama daripada materi itu sendiri. Beliau meyakini, bila guru memiliki semangat maka semangat itu akan menular ke anak didiknya. Tujuan metode komik ini antara lain:

  1. Memahami makna Al Qur’an
  2. Menambah kekhusyukan shalat
  3. Memahami kitab-kitab dalam bahasa Arab

Semoga kami dapat mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pembelajaran di SDIT Al Uswah Surabaya, tidak ada yang tidak belajar disini, setiap gurupun dituntut untuk senantiasa meng-uprade ilmu demi tercapainya visi kami yaitu, “Mencetak Generasi Rabbani yang Intelek dan Kreatif”

Amiin Allahuma Amiin..

 

 

Praktikum IPA

Alhamdulillah hari ini Selasa, 4 April 2017, siswa kelas 4C telah selesai melakukan praktikum IPA yakni menguji energi kalor.

Apa sih kalor itu?
Ada yang ingat kah?

Menurut wikipedia:
Kalor adalah energi yang berpindah akibat perbedaan suhu. Satuan SI untuk panas adalah joule. Panas bergerak dari daerah bersuhu tinggi ke daerah bersuhu rendah.

Artinya, kalor itu sama dengan panas yaa kawan.

Praktik kali ini dibagi menjadi 3 bagian antara lain:
1. Konveksi yaitu perpindahan energi kalor tanpa diikuti zat perantaranya
2. Konduksi yaitu perpindahan energi kalor yang diikuti oleh zat perantaranya
3. Radiasi yaitu perpindahan energi kalor dengan tdak menggunakan alat perantara

Peristiwa yang melibatkan kalor sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, pada waktu memasak air dengan menggunakan kompor. Air yang semula dingin lama kelamaan menjadi panas.

Mengapa air menjadi panas?
Air menjadi panas karena mendapat kalor, kalor yang diberikan pada air mengakibatkan suhu air naik.

Dari manakah kalor itu?
Kalor berasal dari bahan bakar, dalam hal ini terjadi perubahan energi kimia yang terkandung dalam gas menjadi energi panas atau kalor yang dapat memanaskan air.

Memilih Guru

prestasi-2Kewajiban utama orang tua pada anaknya adalah mendidik. Terkait wasail cukup banyak bentuknya baik formal maupun non formal, serta metode pembelajaran yang beragam. Untuk mendidik ini pasti membutuhkan seorang guru yang bisa membimbing anak menjadi generasi yang cerdas dan berakhlaq. Di dalam keluarga, kedua orang tua-lah yang menjadi guru. Sedangkan di sekolah, guru merupakan orang tua bagi anak didiknya. Tidak gampang menemukan guru yang cerdas sekaligus mampu menjadi orang tua yang mengayomi.

Memilih sekolah yang terbaik bagi anak itu berarti memilihkan guru yang bermutu bagi anaknya. Di sekolah, guru tidak sebatas pengampu mata pelajaran tapi seluruh pegawai adalah guru. Karena tingkah laku mereka akan menjadi cerminan bagi warga sekolah. Guru yang bermutu, minimal memiliki dua kompetensi. Pertama kompeten dalam mengajar yang dibuktikan pada penguasaan konsep dan menyajikan pembelajaran secara menarik. Kedua, kompetensi sikap yang ditunjukkan oleh keteladanan akhlak baik bertutur kata maupun tingkah laku. Kedua kompetensi ini mutlak harus dimiliki oleh seorang guru. Jika tidak, meminjam istilah Ir. Abdul Kadir Baraja (YLPI Al Hikmah)- lebih baik tidak usah jadi guru.

Dalam kehidupan, guru yang baik itu harus mampu mengelola urusan rumah tangganya : Istri dan anaknya. Sebagai pemimpin rumah tangga, dia menjalankan konsep Allah, qu anfusakum wa ahliikum naar.  Bukan sebaliknya rumah yang senantiasa diwarnai konflik, rumahku nerakaku. naudzu billah.Bagaimana mungkin dia mendidik anak orang lain jika anaknya atau istrinya sendiri bermasalah  ?. Bayangkan jika problem  dari rumah dibawah ke sekolah dan masuk ke ruang-ruang kelas. Saya yakin proses pembelajaran bakal terganggu, karena ilmu bagaikan cahaya (al ilmu nuurun). Dari rumah itulah, guru  senantiasa memancarkan nur. Kumpulan guru tersebut akan menjadikan sekolah dan siswanya bercahaya.

Secara lahiriyah, sekolah bisa dilihat dari gedung dan sistem administrasi. Bangunan gedung dan fasilitas inilah yang menjadi sarana pendukung untuk memberikan kenyamanan belajar. Sedangkan sistem administrasi yang berupa kelengkapan dokumen dan tempelan affirmasi lebih menunjukkan manajemen sekolah. Betapa megahnya gedung serta administrasi yang rapi itu tidak bermakna tanpa kehadiran guru – yang menjadi ruh sekolah. Dialah yang menghidupi sekaligus dihidupi sekolah.

Tugas manajemen sekolah adalah mengadakan seleksi dan mengembangkan mutu guru secara optimal serta memperhatikan kesejahteraan. Mencari guru yang berkualitas sungguh tidaklah mudah. Kebanyakan anak SMA  yang cerdas secara akademik lebih memilih kuliah pada jalur non-keguruan. Dari kenyataan tersebut, seleksi yang utama terhadap guru adalah komitmen. Terkait penerapan strategi pembelajaran, guru harus mampu menjadi pembelajar mandiri. InsyaAllah, jika guru tersebut berkomitmen dan memiliki semangat belajar yang tinggi, niscaya Allah akan memberikan kemudahan baik tugas maupun rezeki

Mutu guru yang seharusnya dikembangkan meliputi profesional, pedagogik, kepribadian dan personal. Adapun bentuknya disesuaikan dengan arah dan tujuan sekolah. Di SMPIT Al Uswah Surabaya, kegiatan yang menunjang mutu guru  terdiri dari empat. Pertama, pembinaan dan pelatihan secara rutin baik Keislaman (halaqoh) maupun teknik pembelajaran. Kedua, pengawalan amal ibadah yang mendukung terbentuknya karakter Islam. Setiap pegawai melaporkan setiap minggu ibadah standar.  Ketiga, Hafalan  Al Quran yang setiap tahunnya diadakan 2 kali sertifikasi. Tahfidz ini tidak hanya berlaku pada guru Al Quran, tapi semua pegawai. Karena tahfidz ini sudah menjadi program andalan bagi anak didik Al Uswah. Keempat, mendorong guru untuk berkarya : PTK, Resensi buku, menulis artikel, dan dokumentasi pembelajaran.

Semoga orang tua mampu memilihkan guru yang terbaik bagi putra-putrinya. Saya memohon kepada Allah agar senantiasa menjadikan keluarga besar SMPIT Al Uswah, min azwajina wa min dzurriyatina menjadi muttaqina imama. amiin (Anjaya)

Anakku Tidak Bisa Diam

tak-bisa-diamSebagai seorang pendidik maupun orang tua, kita seringkali melihat anak yang unik. Suka jalan-jalan di kelas, tidak betah duduk rapi di kursinya, sulit berkonsentrasi, sering tidak menyelesaikan tugas di kelas maupun PR di rumah, bahkan tak jarang melamun. Lebih tertarik pada daun yang bergoyang di luar jendela, atau menikmati gemericik air dari sungai dekat sekolah. Namun ketika anak-anak seperti itu diminta untuk bermain lego atau puzzle maka mereka menjadi sangat fokus bahkan berjam-jam. Apa yang terjadi dengan mereka?

Seringkali anak-anak tersebut ketika sudah kehilangan objek pelampiasan energy, mereka akan mengganggu teman-temannya. Entah mengajak bercanda, atau melakukan hal-hal usil yang pada akhirnya membuat anak-anak tersebut menjadi sumber masalah belajar di kelasnya. Anak-anak tersebut juga biasanya kurang dalam tugas membaca, menulis bahkan berhitung. Lengkap sudah atribut negatif yang tampak dari mereka. Mereka menjadi sering mendapat konsekuensi pelanggaran, ditolak dalam kelompok pertemanan karena membuat poin kelompok berkurang atas ketidakrapiannya, dalam kondisi yang berlanjut mereka bisa menjadi anak yang tidak mau tunduk pada aturan dan suka membangkang.

Sebenarnya ada apa dengan anak-anak tersebut?  Jeefrey Freed, M.A.T, Salah seorang mantan guru, ahli terapi  pendidikan dan konsultan khusus yang menangani masalah ADD (Attention Deficit Disorder) dan  berbakat memiliki pengalaman menarik atas masalah ini.  Jika dilihat dari serangkaian ciri anak-anak unik ini memiliki hiperimpulsif, hipersensori, hipersensitif, hipervisual, dan hiperaktif.  Semua ciri itu jika dilihat dalam Diagnosa Kesehatan Mental Psikologi masuk dalam kategori Attention Deficit Disorder dan hyperactive Disorder. Jeefrey merasa tidak sepakat dengan diagnose tersebut. Dari pengalaman terapi bersama ribuan anak ADD dan dukungan dari ilmuwan-ilmuwan yang juga memiliki sudut pandang yang sama, dia menyimpulkan bahwa anak-anak itu bukan mengalami gangguan, namun mereka adalah anak-anak yang fungsi otak kanannya lebih dominan.  Jadi jika ditarik dalam latar kelas, anak-anak ini memiliki gaya belajar dominan otak kanan.

Otak kita bisa di bagi menjadi bagian otak kanan dan kiri. Bagian otak kiri bertanggung jawab atas bahasa, kata, logika, analisis, urutan. Sedangkan bagian otak kanan bertanggung jawab atas hal-hal yang berkaitan dengan seni, irama, Imaginasi, sintesis, dan spasial ruang. Maka anak dengan dominan otak kiri cederung lebih runtut dalam berfikir, mudah memahami bahasa dan matematika serta menyukai keteraturan. Sebaliknya anak dengan dominan otak kanan cara berfikirnya acak, suka membuat imaginasi, kurang rapi, suka bergerak namun kreatif dan lebih humoris. Lantas bagaimana membantu anak dominan otak kanan dalam dunia otak kiri? Kita tahu bahwa keteraturan dan kepatuhan adalah salah satu iklim yang dibutuhkan di kelas. Anak dengan dominan otak kiri  memang sudah bawaannya menjadi anak yang rapi, penurut dan mudah memahami pembelajaran. Dan kondisi sebaliknya untuk anak dengan dominan otak kanan.

Untuk membantu anak-anak dengan dominan otak kanan beradaptasi di dunia berotak kiri adalah dengan memahami terlebih dahulu karakteristik mereka. Anak dominan otak kiri memiliki sifat:

1. Sulit memahami penjelasan khusus ke penjelasan umum (induktif).

2. Memiliki ingatan kuat akan hal-hal khusus (dimana kunci motor bunda letakkan)

3. Memiliki keinginan  menjadi yang paling unggul.

4. Mudah menyerah ketika menemui hal yang belum ia kuasai

5. Tidak ingin terlihat tidak bisa

6. Bisa mengerti suasana emosi orang lain, peka, dan cenderung lebih berempati.

7. Beberapa anak memiliki keterlambatan motorik kasar dan halus pada waktu balita dan sekolah dasar.

Sebagai pendidik dan orang tua kita perlu memiliki cara khusus dalam mendampingi mereka. Pendampingan yang perlu kita lakukan antara lain:

1. Jangan menekan (tuntutan berlebihan dan mengkritik pada kesalahannya)

2. Memberikan pujian proporsional & Positif (menekankan pada usahanya bukan hasil akhir)

3. Prioritas pada pendampingan bukan instruksi

4. Mengajak belajar di tempat yang tenang

5. Tidak memaksanya duduk diam (terutama usia balita dan TK)

6. Memberikan gambaran besar dalam menyampaikan pembelajaran / sampaikan tujuan dari pembelajaran (Deduktif)

7. Gunakan humor

8. Ajak anak membuat ‘visualisasi,’ di pikirannya setiap mempelajari hal baru.

Berikut cara pendampingan belajar pada anak dengan gaya belajar dominan otak kanan.

Belajar Membaca

  • Gunakan warna
  •  Buku bergambar
  •  Tema yang disukai anak
  •  Menuliskan kata sulit untuk di kuasai dahulu
  •  Meminta anak membuat visualisasi di pikirannya
  •  Anak diminta membaca berulang-ulang sampai paham
  •  Dengan permainan tebak kata
  •  Ketika sudah lancar membaca, diminta membaca cepat dan berulangBelajar Menulis
  • Menulis adalah menafsirkan simbol baik dalam huruf atau angka.
  •  Hal ini adalah momok bagi dominan otak kanan karena berbenturan dengan rasa takut gagal dan obsesi terhadap kesalahannya.
  •  Maka belajar menulis cukup 5-15 menit/hari.
  •  Proses di dikte, menggunakan kata – kata pendek.
  •  Abaikan kesalahan kecil
  •  Koreksi dengan membetulkan kesalahan“ ayah/bunda yakin adek tadi bermaksud menulis ini kan” (dibetulkan kesalahannya)Belajar Matematika
  • Memberi alasan mengapa belajar matematika
  •  Menghubungkan dengan kegiatan sehari-hari (Memasak, membayangkan membuat rumah pohon, kolam, pagar, menggunakan bentuk nyata (meja, kotak pensil, gelas)
  • Membantunya bekerja dalam  imaginasinya Demikian beberapa hal yang bisa kita lakukan baik sebagai pendidik maupun orang tua dalam mendampingi mereka. Sebagai kesimpulan, anak-anak dominan otak kanan bukanlah anak yang sulit memahami atau sulit diatur, namun mereka adalah anak-anak cerdas yang kreatif, estetis intuitif, memori visual, global deduktif, acak, spontan, moody dan inspiratif.
  • Orang – orang besar seperti Albert Enstein, Steaven pielberg, Thomas Alfa Edison, Leonardo Davinci, Henry Ford dan masih banyak lagi dulunya adalah anak-anak yang bermasalah membaca, menulis dan menghitung bahkan mereka didiagnosis mengalami diseleksia. Namun ketika mereka sudah menemukan cara belajar yang tepat maka dunia akan terpana menyaksikan kehebatan mereka. (Lilih Pamugarsari, S. Psi) Sumber : Right-Brained Children in a Left-Brained World, Unlocking the Potential of Your ADD Child, Laurie Parson dan Jeffrey Freed

Menakar Mutu Sekolah Islam

ngaji1Bagi orang modern, sekolah menjadi tempat yang utama untuk mendidik anak. Mulai jenjang dasar hingga pendidikan tinggi. Ilmu yang dipelajari di sekolah memiliki tingkat kedalaman yang berbanding lurus dengan jenjangnya. Semakin tinggi gelar akademik, orang tersebut seharusnya mampu menemukan ‘kunci’ kehidupan. Kunci bisa dimaknai sebagai perpaduan antara kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Adapun di dalam Islam, lembaga pendidikan yang bernama ‘sekolah’ merupakan salah satu instrumen pendidikan. Selain itu ada pendidikan keluarga dan masyarakat. Asal mulanya, sekolah ini hanya berfokus pada kecerdasan intelektual dengan penguasaan ilmu umum dan ‘bukti’ akademik (ijazah). Untuk mengimbangi pemahaman akademik yang sekuler, munculnya ‘sekolah Islam’. Identitas Islam ini untuk menjadi tanda bahwa di-dalam proses pembelajarannya memadukan antara ilmu umum dan keagamaan, formal dan informal, ilmu dan amal, serta kecerdasan dan kemuliaan akhlak.

Pendidikan sesungguhnya tujuan utama dalam mengenal Tuhan melalui dirinya. ‘Man arofa nafsa man arofahullah’. Seorang murid harus mampu mengoptimalkan potensi yang meliputi jasad dan rohaninya, akal dan hatinya – sebagai alat untuk memahami maksud Tuhan. Hingga ia mengucapkan ‘robbana maa kholaqta hadza batilan’. Dengan kata lain, kejadian apapun yang ditemui manusia – pasti tersimpan ‘maksud’ Tuhan. Ada ungkapan jawa : ‘Empan Papan’. Tidak ada ciptaan Tuhan yang buruk, asal diletakkan pada tempatnya.

Namun, perjalanan sekolah Islam mengalami penurunan kualitas. Ada tiga indikator yang menjadi muara penurunan. Pertama, hilangnya identitas sebagai sekolah islam. Tidak ada bedanya dengan sekolah umum, kecuali lantunan kitab suci dan sholat berjamaah. Meskipun beberapa sekolah umum juga menerapkan pembiasaan religius tersebut. Penyebab utama dari hilangnya identitas adalah minimnya pemahaman pengelola terhadap ajaran Islam, visi-misi sekolah, dan budaya Islam. Mereka terjebak pada simbol dan ritual ibadah semata. Sekolah Islam seharusnya mampu mencetak kader kebaikan (dai) dan melakukan transformasi masa depan (agent of change).

Kedua, hilangnya kemandirian sekolah. Kemandirian ini disebabkan faktor eksternal yaitu kebijakan pendidikan nasional. Meskipun orde reformasi menerapkan desentralisasi tapi tidak sepenuhnya. Banyak sekolah yang kebingungan ketika ada pergantian menteri yang otomatis diikuti kebijakan baru. Baik kurikulum, sistem manajemen sekolah, maupun kesejahteraan guru. Sekolah Islam seharusnya mampu merancang kurikulum secara mandiri, gurunya memiliki kemandirian dalam inovasi PBM, serta Kepala Sekolah yang inovatif. Kemandirian ini tidak berarti menentang kebijakan pemerintah tapi tetap di dalam koridor dengan fokus peningkatan mutu sekolah.

Ketiga, Menguatnya standarisasi pendidikan. Kata ‘standar’ ini menjadi keniscayaan dalam dunia modern dan bersifat global. Standarisasi dalam pendidikan meliputi : akreditasi, sertifikasi, dan ujian nasional/sekolah. Semua sekolah ‘harus’ tunduk pada standar yang disusun oleh pihak lain. Dampak baik dari sistem ini yang diharapkan ialah memacu daya saing. Tapi yang menjadi problem adalah seringkali meniadakan keunikan baik secara institusi sekolah maupun manusia baik itu guru atau siswa. (anjaya-w)

Sikap JSIT Terhadap Kurikulum 2013

logo-jsitMerespon kebijakan menteri pendidikan dasar menengah dan kebudayaan yang mengintruksikan sekolah untuk menghentikan pelaksanakan kurikulum 2013 yang baru menerapkan satu semester dan kembali menggunakan kurikulum 2006. Dan bagi sekolah yang sudah tiga semester menerapkan kurikulum 2013 untuk terus melanjutkan atau bias kembali ke kurikulum 2006 dengan mengajukan keberatan. Ada kesan bahwa kurikulum 2006 lebih maslahat diterapkan daripada kurikulum 2013.

Dengan merujuk Landasan filosofis pendidikan Indonesia UU. SISDIKNAS No. 20 Th. 2003 ditegaskan « Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ». Kurikulum 2013 lebih pas untuk merealisasikan tujuan mulia ini.

JSIT Indonesia, berpandangan bahwa kurikulum 2013 telah menjadikan pembinaan karakter sebagai muatan yang penting dalam proses pembelajaran di sekolah yang jelas terungkap dalam perumusan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Kurikulum 2013 secara konseptual telah membangun keseimbangan aspek sikap, pengetahuan (kognitif) dan Keterampilan dan juga kesinambungan kompetensi antar level kelas. Keseimbangan sikap, pengetahuan Dan keterampilan ini tidak tampak dalam kurikulum 2006 yang terlalu cognitive oriented. kurikulum 2013 lebih mengedepankan semangat inquari dalam pembelajaran, melatih siswa lebih trampil, menumbuhkan jiwa nasionalisme dan kesadaran untuk semangat menjalankan perintah-perintah agama. Dengan demikian, Kurikulum 2013 sudah sejalan dengan visi dan misi serta tujuan pendidikan nasional.

Didasarkan pada tujuan pendidikan nasional dan konsep pendidikan Ibnu Shina yang melandasi stadar mutu SIT ,yaitu : “Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yg dimiliki seseorang. Potensi ini tidak terbatas fisik dan intelektual namun juga budi pekerti, moral-spiritual. Selain itu pendidikan juga harus mampu menyiapkan seseorang agar dapat hidup bermasyarakat dan bermakna untuk masyarakat” . Implementasi model pendidikan ini telah kami realisasikan sejak berdirinya sekolah-sekolah Islam Terpadu tahun 1993. Pembinaan karakter di SIT telah dilaksanakan bahkan jauh sebelum Kurikulum 2013 dilaksanakan. Pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam tidak sekedar menjadi bagian dari mata pelajaran tapi menjadi budaya sekolah inheren dengan seluruh sendi-sendi kehidupan di sekolah dan di luar sekolah.

Dengan demikian JSIT Indonesia menyerukan pada seluruh sekolah SIT yang bergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu :

  1. Agar Pendidikan karakter ini tetap menjadi warna utama Pendidikan di sekolah Islam Terpadu apapun bentuk kurikulumnya, sekolah-sekolah IT dapat menggunakan kurikulum 2013 atau dapat menggunakan kurikulum 2006 dengan semangat kurikulum 2013.
  2. Sambil menunggu kesungguhan pemerintah memperbaiki system pendidikan yang akan diterapkan, kami JSIT Indonesia sebagai Induk organisasi akan berupaya menyerdahanakan model penilaian yang menjadi momok guru dalam kurikulum 2013 dan akan menyiapkan guru-guru untuk merealisasikan pembelajaran berbasis ilmiah dan religius.
  3. Meskipun JSIT menilai banyak kelebihan kurikulum 2013 dibanding Kurikulum Sebelumnya, Kami mendukung segenap upaya pemerintah untuk mengevaluasi kurikulum 2013 dalam tataran konseptual maupun pelaksanaan. Dengan belajar dari pengalaman penerapan kurikulum 2006 atau KTSP yang menurut hemat kami juga memiliki banyak kekurangan terutama dalam teknis pelaksanaannya di lapangan, tidak dipungkiri terdapat berbagai macam kekurangan dan bahkan kerancuan terutama dalam implementasi seperti pengadaan buku penunjang, rekrutmen instruktur nasional, pelatihan guru, dsb. Sehingga diharapkan kurikulum 2013 akan semakin sempurna ketika akan ditetapkan secara menyeluruh di sekolah-sekolah seluruh Indonesia.
  4. JSIT Indonesia akan terus mendorong Pemerintah khususnya kemendikbud agar senantiasa berkomitmen untuk menjadikan karakter dan nilai-nilai spiritual menjadi pondasi Pendidikan Indonesia dalam pengembangan kompentesi peserta didik. Diharapkan dengan pendidikan karakter dan kompetensi yang dikembangkan tersebut akan menjadikan bangsa Indonesia terhormat dan bermartarbat dalam pergaulan antar-bangsa di dunia.

http://www.jsit-indonesia.com/?p=826

Pendidikan Sebagai Nilai Universal Dalam Islam

1381774_10201873858488313_7862644297187823091_nManusia diciptakan Allah dalam rangka agar senantiasa menyembah kepadaNya. Selanjutnya di tempatkan di atas bumi untuk memakmurkannya agar menjadi ladang amal kebaikan atau malah sebaliknya justru lupa akan tujuan penciptaannya dengan konsekuensi masing – masing. Amanah yang besar ini tentu harus dapat dilaksanakan dengan baik agar memberikan kesudahan yang baik kelak di akhirat. Oleh karena besar dan beratnya amanah yang harus diemban maka tentu manusia harus mendapat pemahaman yang utuh mengenai hakikat kehidupan ini agar melahirkan kebahagiaan. Dari sinilah diperlukan pendidikan yang mampu mengarahkan manusia pada pemahaman yang utuh tadi. Demikianlah konsep pendidikan yang ada dalam islam, bahwa semua pengetahuan yang ada mengarah kepada pembuktian akan adanya Tuhan yang menciptakan alam raya dan satu – satunya yang patut untuk disembah. Alam semesta ini diciptakan oleh pencipta yang satu yang oleh karenanya maka dalam mengelola alam raya ini harus sesuai dengan petunjukNya agar benar – benar membawa kemanfaatan (keberkahan) bagi manusia.

Pendidikan menjadi nilai universal, diakui sebagai kebutuhan dasar setiap manusia agar mereka dapat mengelola alam raya ini. Karena diakui dan diyakini menjadi kebutuhan dasar manusia maka hal ini menjadi salah satu hak dasar yang harus dipenuhi dan dituntut agar dapat diperoleh dengan baik, tanpa pandang bulu, baik laki – laki maupun perempuan, kaya ataupun miskin, putih atau hitam. Lantas siapa yang paling bertanggung jawab dalam hal pemenuhan hak dasar tersebut ? dalam konsep Islam tentu saja yang paling pertama dan utama yang bertanggung jawab adalah orang tua. Setiap orang tua memiliki kewajiban asasi mendidik putra – putrinya agar mengenal Tuhannya, bagaimana menyembahNya, bagaimana menggapai keridhoaNnya. Dalam kehidupan yang ada struktur masyarakat dan pemerintahan, maka masyarakat dan pemerintahpun bertanggung jawab dalam merealisasikan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut karena setelah keluarga maka lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi proses pendidikan setiap anak. Pemerintah secara khusus memiliki otoritas dan sekaligus amanah untuk memberikan layanan pendidikan yang dapat dijangkau setiap rakyatnya. Pemerintah memberikan standard minimal layanan pendidikan yang mampu mewujudkan generasi yang berpengetahuan dan memiliki karakter dasar yang pasti sangat diperlukan dalam kehidupan sehari – hari. Dalam hal ini pemerintah sacara khusus sangat berkepentingan akan adanya generasi yang akan melanjutkan estafet pemerintahan. Secara universal diperlukan generasi yang akan mengelola alam raya ini yang ujung – ujungnya adalah untuk kemakmuran manusia di dunia.

Sebagai hak dasar bagi manusia, selama ini pendidikan lebih diarahkan pada 4 pilar dasar yaitu Learning to know, Learning to do, Learning to be, Learning to live together. Bahwa pendidikan diarahkan agar mengetahui segala sesuatu, belajar untuk dapat digunakan dalam kehidupan sehari – hari, belajar untuk dapat menjadi “seseorang” dengan baik, belajar agar dapat hidup bersama. Empat pilar ini berangkat dari pemikiran manusia yang tidak dilandasi keyakinan akan adanya sang  Pencipta sampai pada konsekuensi penghambaan kepadaNYa. Sementara dalam Islam “Iqra bismirobbika alladzii kholaq “

Allahu a’lam bi Showab

Menggapai Ketenangan Jiwa

DSC00258Dalam perkembangan hidup, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin melakukannya, ia justru melakukannya. Melakukan kejahatan terhadap orang lain semisal mengambil harta orang lain (mencuri), mengambil nyawa orang lain (membunuh), bahkan mengambil nyawa seluruh anggota keluarganya sendiri bahkan tidak sedikit manusia melakukan kejahatan terhadap diri sendiri semisal minum-minuman keras, obat-obatan terlarang hingga sampai tindakan bunuh diri. Astaghfirullah.

Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini. Dengan jiwa yang tenang, kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt. dan Rosul-Nya. Untuk mencapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak islami, sehingga bukan ketenangan jiwa yang didapat melainkan kegelisahan dalam jiwanya terus bertambah. Al-Qur’an menyebutkan kiat-kiat praktis menenangkan jiwa, yaitu :

Pertama dengan Dzikrullah / Mengingat Allah. Dzikir kepada Allh Swt. merupakan kiat untuk menggapai ketenangan jiwa, yakni dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah Swt. dengan menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut –Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah Swt. ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta’awuz (mohon perlindungan Allah Swt.), ia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istigfar atau taubat, ia menjadi tenang sebab telah merasa diampuni dosa-dosanya.Ketenteraman hati orang-orang yang beriman serta pembalasan bagi mereka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surat (13:28) : ….Orang-orang yang beriman dan hati meraka menjadi tentram dengan mengingat Allah Swt. Ingatlah dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.  (13:28). Sehingga “ Dzikrullah Tathma’iinul Qulub “ yang artinya :  Berdzikir dapat Menenangkan Hati

Yang kedua adalah Yakin Akan Pertolongan Allah. Dalam hidup sering kali banyak kendala, tantangan, rintangan, dan hambatan yang harus dihadapi. Adanya hal-hal itu sering kali mmembuat manusia menjadi tak tenang yangmana membawa pada perasaan takut dan selalu menghantuinya. Ketidak tenangan seringkali membuat orang yang menjalani kehidupan menjadi putus asa. Oleh karena itu, agar hati tetap tenang dalam berjuang menegakkan agama Allah Swt. dan sebagai pendidik (Guru) serta dalam menjalani kehidupan yang sulit,  seorang muslim harus yakin dengan adanya pertolongan Allah Swt. Selain itu,  dia juga harus yakin bahwa pertolongan Allah Swt. itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang terdahulu, tapi juga untuk orang sekarang dan masa yaaang akan datang. Allah Swt. berfirman yang artinya : “Dan Allah Swt. tidak menjadikan pemberian balabantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi(kemenangan)mu dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hnya dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. ( 3:126, lihat juga QS 8:10).

Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yang diberikan Allah Swt. kepada para Nabi dan generasi sahabat dimasa Rosulullah Saw, maka sekarangpun kita  harus senantiasa yakin akan pertolongan Allah Swt. Seandainya tidak mendapatkannya bukan berarti Allah Swt. berhenti memberi pertolongan kepada hamba-Nya, hanya saja hamba itulah yang terhalang oleh pertolongan Allah Swt.. Perumpamaan sebagaimana hujan turun ke bumi tidak semua kehujanan padahal berada di tempat yang sama yakni sedang turun hujan, mungkin ada yang sedang di jalan, dirumah maupun naik dimobil, ada yang kehujanan ada juga yang tidak kehujanan disebabkan ada penghalangnya atau tidak. Kita harus yakin akan pertolongan Allah Swt. serta berusaha menghilangkan penghalangnya.

Namun harus kita ingat bahwa pertolongan Allah Swt. itu seringkali datang apabila seseorang telah mencapai kesulitan yang sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau diumpamakan seperti jalan, maka sudah buntu atau mentok. Dengan keyakinan seperti itu, seseorang muslim tidk akan cemas dalam menghadapi kesulitan karena memang pada hakikatnya pertolongan Allah Swt. itu dekat.Allah berfirman yang artinya : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu, Mereka ditimpa oleh mala petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rosul dan orang-orang yang beriman ; ‘bilakah datangnya pertolongan allah Swt. ?’ “ ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah Swt. itu sangat dekat’. ( QS. 2:214).

Dan Yang ketiga adalah Memperhatikan Bukti Kekuasaan AllahKecemasan dan ketidaktenagan jiwa disebabkan karena manusia seringkali terlalu merasa yakin dengan kemampuan dirinya, akibatnya ketika pada kenyataannya  dia merasakan kelemahan pada dirinya, dia merasa takut dan tidak tenang, tetapi jika dia selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah Swt. dia akan menjadi yakin sehingga membuat hatinya menjadi tentram, hal ini karena ia sadari bahwa betapa besarnya  kekuasaan Allah Swt. yang tidak perlu cemas, tetapi perlu dikagummi. Allah Swt. berfirman : Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata : ya Tuhanku perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah Swt. berfirman : “Belum yakinkah kamu?. Ibrahim menjawab : ‘Aku telah meyakinkan, akan tetapi agar hatimu tenang (tetap mantap dengan imanku)’. Allah Swt. berfirman : (kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah, kemudian letakkan diatas tiap-tiap satu bagian dari bagian burung itu diatas bukit, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kemudian yang keempat adalah Bersyukur. Allah Swt. memberi kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang banyak. Kenikmatan itu harus kita syukuri karena dengan bersyukur kepada Allah Swt. akan membuat hati menjasi tenang, sebab dengan bersyukur, kenikmatan akan bertambah banyak, baik banyak dari segi jumlahnya ataupun minimal terasa banyaknya. Akan tetapi , jika tidak bersyukur, kenikmatan yang Allah Swt. berikan kepada kita, kita anggap sebagai sesuatu yang tidak ada artinya, meskipun jumlahnya banyak, kita merasakannya sedikit.Apabila manusia tidak bersyukur, maka Allah Swt. memberikan azab yang membuat mereka menjadi tidak tenang / gelisa hatinya, Allah Swt berfirman yang artinya ; “Dan Allah Swt. telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram rizqinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah Swt. karena itu Allah Swt. merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan oleh apa yang selalu mereka perbuat” (QS. 16:112).

Dan yang kelima adalah Tilawah, Tasmi’ dan Tadabbur Al-Qur’an. Al Qur’an adalah kitab sebaik-baik perkataan, diturunkan pada bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Orang yang membaca (tilawah), mendengar bacaan (tasmi’) dan mengkaji (tadabbur) ayat-ayat suci Al-Qur’an niscaya menjadi tenang hatinya, manakala ia benar-benar beriman kepada Allah Swt. Tadabbur adalah bertafakkur (berfikir) dan merenungi ayat-ayat Al Qur’an dengan tujuan memahami, mengetahui maknanya, hikmah-hikmahnya dan maksud-maksudnya. (3ha)

Refreshing Rangsang Kreatifitas Siswa

IMG_1349Sekolah identik dengan media pembelajaran yang berkutat dengan ruang belajar bernama kelas. Namun, ide – ide kreatif para pengajar dalam mengemas sistem pembelajaran yang menarik selalu menjadi keunggulan SDIT Al Uswah Surabaya. Masa liburan yang cukup lama merupakan tantangan tersendiri bagi siswa maupun pengajar untuk menumbuhkan semangat kembali ke sekolah. Hal inilah yang menjadi motivasi para pengajar untuk membuat aktifitas – aktifitas pembelajaran yang unik serta menarik di awal tahun ajaran  agar tidak terjadi kejenuhan siswa  ketika di sekolah. Tentu dengan tidak meninggalkan dasar – dasar pembelajaran yang melingkupi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Seperti masa re-orientasi siswa yang dilakukan awal masuk sekolah setelah libur panjang menjelang lebaran kali ini. SDIT Al Uswah telah merancang serangkai acara yang unik dan  menarik untuk siswa yang digunakan sebagai sarana re-orientasi sekolah.  Berawarl dari agenda saling bermaafan antara siswa maupun guru serta para tetangga terdekat sekolah. Dalam aktifitas tersebut  bertujuan untuk merangsang sikap saling memaafkan dan berbagi melalui parcel  yang merupakan kumpulan kue lebaran yang mereka bawa dari rumah. Dan parcel yang dibuat adalah hasil karya siswa kelas 4 sampai dengan kelas 6 dengan beragam bentuk dan bungkusan yang unik yang dibuat oleh siswa sendiri.

Masa re-orientasi berlanjut dalam bentuk yang berbeda-beda setiap jenjangnya. Seperti yang dilakukan oleh tim jenjang kelas satu yaitu membuat roti bakar serta susu. Dalam aktifitas ini bertujuan untuk menumbuhkan daya kreatifitas siswa serta memumpuk sikap kemandirian siswa sejak dini. Lain cerita, jenjang kelas 6 . Setelah mengisi masa re-orientasi yang tersisa dengan Test Diagnostik yakni test awal untuk mengetahui kemampuan siswa kelas 6 yang akan menempuh Ujian Semester dan Ujian Nasional periode tahun ajaran ini. Setelah melakukan test, tim jenjang kelas 6 selalu membuat ide unik melalui refresh. Yaitu sebuah aktifitas disela test- test yang dilakukan oleh kelas 6. Refresh kali ini berupa membuat aneka macam bentuk tampilan rujak manis yang disebut rujak party.  Refresh ini selain bertujuan untuk merefresh aktifitas siswa setelah tes atau try-out juga merupakan media yang memacu daya kreatifitasnya dalam berbagai bentuk.  Salah satu idenya adalah berbagai macam bentuk tampilan aneka rujak dengan bahan dari aneka buah yang ada.

Aktifitas-aktifitas unik seperti refresh inilah yang cukup efektif meransang ide-ide kreatif siswa dalam proses pembelajarannya. Sehingga titik kejenuhan dan kebosanan selama pembelajaran bisa terpecahkan dengan refresh yang bermanfaat. Selain untuk mengembangkan softskill  seperti leadership serta kerjasama dan aktifitas ini jauh lebih mampu menumbuhkan daya kreatifitas siswa sejak dini. Belajar menjadi lebih asyik serta menyenangkan. (Hm)

Pasca Ramadhan Adalah Pembuktian

Nature-333Pasca Ramadhan adalah pembuktian, apakah kita termasuk yang benar-benar telah sukses dalam berpuasa Ramadhan yang baru berlalu, ataukah belum dan masih harus introspeksi diri, mujahadah serta banyak belajar lagi dan lagi? Pasca Ramadhan adalah pembuktian, apakah kita telah tergolong para ahli ibadah sejati, ataukah baru sekadar penggembira amal dadakan dan musiman saja? Pasca Ramadhan adalah pembuktian, apakah amal ibadah istimewa sebulan penuh kemaren itu hanya karena faktor bulan Ramadhan sebagai musim amal ibadah, yang serta merta usai dan “bubar” seiring berlalu dan “bubar”-nya bulan teristimewa? Ataukah telah benar-benar demi Tuhan-nya Ramadhan, yang berarti juga Tuhan-nya Syawwal, Tuhan-nya Dzulqa’dah, Tuhan-nya Dzulhijjah, dan seterusnya?
Dalam konteks ini Asy-Syaikh DR. Yusuf Al-Qardhawi menasehatkan dengan ungkapannya: “Kunu rabbaniyyin, wala takunu ramadhaniyyin!” (Jadilah kalian hamba-hamba beriman yang taat sepanjang masa karena Allah semata. Dan janganlah hanya menjadi para ahli ibadah dadakan selama musim Ramadhan saja!). Pasca Ramadhan adalah pembuktian, apakah taqwa istimewa yang merupakan goal dari ibadah puasa Ramadhan telah benar-benar membuat kita menjadi lebih “kebal” terhadap segala tipu daya syetan penggoda, setelah ia lepas dan bebas kembali dari rantai dan belenggunya, ataukah justru sebaliknya?
Nah, karena itu semua, maka pertanyaan penting pasca Ramadhan yang harus kita ajukan kepada diri masing-masing dan sekaligus menyiapkan jawaban terbaiknya, adalah: Bagaimanakah agar kita tetap bisa istiqamah dalam mempertahankan kondisi keimanan spesial plus segala amal istimewanya dengan berlalunya bulan termulia? Apalagi saat ditanya tentang simpul Islam, Baginda Sayyidina Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab dengan sabda singkat Beliau (yang artinya): Nyatakanlah: “aku beriman kepada Allah”, lalu istiqamahlah (HR. Muslim). Sehingga, karenanya, tidak banyak arti bagi amal ibadah seistimewa apapun, seperti yang telah ditorehkan oleh setiap kita selama Ramadhan lalu, bila tak dikemas dan dipelihara dalam bingkai terindah yang bernama istiqamah!
Namun pertanyaan berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah: Apa dan bagaimana istiqamah itu? Yang pasti, ia sebuah kata yang ringan diucapkan, luas dalam cakupan, berat dilaksanakan, tapi tidak mustahil diupayakan dan diwujudkan! Ya, istiqamah memang berat, karena minimal ada tiga rukun utamanya, dimana masing-masingnya benar-benar tidak ringan, yakni: ilmu, amal dan ajeg (kontinue/berkelanjutan).
Sehingga seseorang yang berilmu tapi tidak diamalkan, belum istiqamah. Dan yang beramal tanpa ilmu, juga tidak istiqamah. Demikian pula yang tidak ajeg dalam mengamalkan ilmu, sama saja, juga berarti belum atau tidak istiqamah. Jadi istiqamah adalah beramal dengan ilmu yang benar dan baik, secara kontinue dan berkesinambungan. Lalu masalahnya, apa dan bagaimanakah cara agar kita tetap dan senantiasa bisa istiqamah, khususnya pasca Ramadhan seperti sekarang ini? Secara singkat, kiat-kiat utama dan faktor-faktor penunjangnya antara lain sebagai berikut: Pertama: berilmu dan berpemahaman yang baik serta memadai. Kedua, jujur dalam keikhlasan dengan senantiasa berusaha lepas dari dominasi nafsu. Ketiga, tak melampaui batas atau tak melebihi porsi (ghulu), baik itu dalam ilmu dan pemahaman, amal dan perbuatan, dakwah dan pergerakan maupun sikap dan penilaian. Keempat, mengkodusifkan diri dan lingkungan secara islami, utamanya dalam lingkup keluarga dan pergaulan, dengan selalu bermawas dan berevaluasi diri (muraqabah dan muhasabah).
Kelima, sabar berada dalam komunitas kesalehan, pertemanan kebaikan, kerja sama kebajikan dan kebersamaan taqwa. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): Bekerja samalah kalian atas dasar kebajikan dan ketaqwaan, serta janganlah bekerja sama atas dasar dosa dan permusuhan (QS. Al-Maidah: 2). Karena seseorang itu lemah kala sendirian, kuat dalam kebersamaan. Dan contoh terdekatnya adalah, saat berpuasa Ramadhan sebulan penuh yang baru lalu, dimana karena saking “ringannya” sampai-sampai seolah tak terasa tiba-tiba berakhir begitu saja. Mengapa? Tak lain karena begitu dominannya nuansa kebersamaan dan demikian kentalnya iklim keguyuban dalam menunaikannya. Sementara itu, sebagai perbandingan, puasa sunnah Syawwal yang hanya enam hari saja, sebaliknya, bisa terasa begitu berat bagi umumnya kita, sehingga tak sedikit yang sampai gagal menuntaskannya, padahal niat semula bukannya tidak ada! Mengapa? Tiada lain sebabnya, adalah karena umumnya masing-masing kita hanya sendirian saja saat menjalankannya!
Akhirnya sebagai penutup, perhatikanlah firman Allah (yang artinya): Maka istiqamahlah sebagaimana engkau diperintah. Begitu juga orang-orang yang tobat bersamamu (para sahabat, hendaklah istiqamah pula bersamamu), dan janganlah kalian melampaui/melebihi batas. Sungguh Dia Maha Tahu terhadap semua yang kamu amalkan (QS.Huud:112) (H. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA)