tak-bisa-diamSebagai seorang pendidik maupun orang tua, kita seringkali melihat anak yang unik. Suka jalan-jalan di kelas, tidak betah duduk rapi di kursinya, sulit berkonsentrasi, sering tidak menyelesaikan tugas di kelas maupun PR di rumah, bahkan tak jarang melamun. Lebih tertarik pada daun yang bergoyang di luar jendela, atau menikmati gemericik air dari sungai dekat sekolah. Namun ketika anak-anak seperti itu diminta untuk bermain lego atau puzzle maka mereka menjadi sangat fokus bahkan berjam-jam. Apa yang terjadi dengan mereka?

Seringkali anak-anak tersebut ketika sudah kehilangan objek pelampiasan energy, mereka akan mengganggu teman-temannya. Entah mengajak bercanda, atau melakukan hal-hal usil yang pada akhirnya membuat anak-anak tersebut menjadi sumber masalah belajar di kelasnya. Anak-anak tersebut juga biasanya kurang dalam tugas membaca, menulis bahkan berhitung. Lengkap sudah atribut negatif yang tampak dari mereka. Mereka menjadi sering mendapat konsekuensi pelanggaran, ditolak dalam kelompok pertemanan karena membuat poin kelompok berkurang atas ketidakrapiannya, dalam kondisi yang berlanjut mereka bisa menjadi anak yang tidak mau tunduk pada aturan dan suka membangkang.

Sebenarnya ada apa dengan anak-anak tersebut?  Jeefrey Freed, M.A.T, Salah seorang mantan guru, ahli terapi  pendidikan dan konsultan khusus yang menangani masalah ADD (Attention Deficit Disorder) dan  berbakat memiliki pengalaman menarik atas masalah ini.  Jika dilihat dari serangkaian ciri anak-anak unik ini memiliki hiperimpulsif, hipersensori, hipersensitif, hipervisual, dan hiperaktif.  Semua ciri itu jika dilihat dalam Diagnosa Kesehatan Mental Psikologi masuk dalam kategori Attention Deficit Disorder dan hyperactive Disorder. Jeefrey merasa tidak sepakat dengan diagnose tersebut. Dari pengalaman terapi bersama ribuan anak ADD dan dukungan dari ilmuwan-ilmuwan yang juga memiliki sudut pandang yang sama, dia menyimpulkan bahwa anak-anak itu bukan mengalami gangguan, namun mereka adalah anak-anak yang fungsi otak kanannya lebih dominan.  Jadi jika ditarik dalam latar kelas, anak-anak ini memiliki gaya belajar dominan otak kanan.

Otak kita bisa di bagi menjadi bagian otak kanan dan kiri. Bagian otak kiri bertanggung jawab atas bahasa, kata, logika, analisis, urutan. Sedangkan bagian otak kanan bertanggung jawab atas hal-hal yang berkaitan dengan seni, irama, Imaginasi, sintesis, dan spasial ruang. Maka anak dengan dominan otak kiri cederung lebih runtut dalam berfikir, mudah memahami bahasa dan matematika serta menyukai keteraturan. Sebaliknya anak dengan dominan otak kanan cara berfikirnya acak, suka membuat imaginasi, kurang rapi, suka bergerak namun kreatif dan lebih humoris. Lantas bagaimana membantu anak dominan otak kanan dalam dunia otak kiri? Kita tahu bahwa keteraturan dan kepatuhan adalah salah satu iklim yang dibutuhkan di kelas. Anak dengan dominan otak kiri  memang sudah bawaannya menjadi anak yang rapi, penurut dan mudah memahami pembelajaran. Dan kondisi sebaliknya untuk anak dengan dominan otak kanan.

Untuk membantu anak-anak dengan dominan otak kanan beradaptasi di dunia berotak kiri adalah dengan memahami terlebih dahulu karakteristik mereka. Anak dominan otak kiri memiliki sifat:

1. Sulit memahami penjelasan khusus ke penjelasan umum (induktif).

2. Memiliki ingatan kuat akan hal-hal khusus (dimana kunci motor bunda letakkan)

3. Memiliki keinginan  menjadi yang paling unggul.

4. Mudah menyerah ketika menemui hal yang belum ia kuasai

5. Tidak ingin terlihat tidak bisa

6. Bisa mengerti suasana emosi orang lain, peka, dan cenderung lebih berempati.

7. Beberapa anak memiliki keterlambatan motorik kasar dan halus pada waktu balita dan sekolah dasar.

Sebagai pendidik dan orang tua kita perlu memiliki cara khusus dalam mendampingi mereka. Pendampingan yang perlu kita lakukan antara lain:

1. Jangan menekan (tuntutan berlebihan dan mengkritik pada kesalahannya)

2. Memberikan pujian proporsional & Positif (menekankan pada usahanya bukan hasil akhir)

3. Prioritas pada pendampingan bukan instruksi

4. Mengajak belajar di tempat yang tenang

5. Tidak memaksanya duduk diam (terutama usia balita dan TK)

6. Memberikan gambaran besar dalam menyampaikan pembelajaran / sampaikan tujuan dari pembelajaran (Deduktif)

7. Gunakan humor

8. Ajak anak membuat ‘visualisasi,’ di pikirannya setiap mempelajari hal baru.

Berikut cara pendampingan belajar pada anak dengan gaya belajar dominan otak kanan.

Belajar Membaca

  • Gunakan warna
  •  Buku bergambar
  •  Tema yang disukai anak
  •  Menuliskan kata sulit untuk di kuasai dahulu
  •  Meminta anak membuat visualisasi di pikirannya
  •  Anak diminta membaca berulang-ulang sampai paham
  •  Dengan permainan tebak kata
  •  Ketika sudah lancar membaca, diminta membaca cepat dan berulangBelajar Menulis
  • Menulis adalah menafsirkan simbol baik dalam huruf atau angka.
  •  Hal ini adalah momok bagi dominan otak kanan karena berbenturan dengan rasa takut gagal dan obsesi terhadap kesalahannya.
  •  Maka belajar menulis cukup 5-15 menit/hari.
  •  Proses di dikte, menggunakan kata – kata pendek.
  •  Abaikan kesalahan kecil
  •  Koreksi dengan membetulkan kesalahan“ ayah/bunda yakin adek tadi bermaksud menulis ini kan” (dibetulkan kesalahannya)Belajar Matematika
  • Memberi alasan mengapa belajar matematika
  •  Menghubungkan dengan kegiatan sehari-hari (Memasak, membayangkan membuat rumah pohon, kolam, pagar, menggunakan bentuk nyata (meja, kotak pensil, gelas)
  • Membantunya bekerja dalam  imaginasinya Demikian beberapa hal yang bisa kita lakukan baik sebagai pendidik maupun orang tua dalam mendampingi mereka. Sebagai kesimpulan, anak-anak dominan otak kanan bukanlah anak yang sulit memahami atau sulit diatur, namun mereka adalah anak-anak cerdas yang kreatif, estetis intuitif, memori visual, global deduktif, acak, spontan, moody dan inspiratif.
  • Orang – orang besar seperti Albert Enstein, Steaven pielberg, Thomas Alfa Edison, Leonardo Davinci, Henry Ford dan masih banyak lagi dulunya adalah anak-anak yang bermasalah membaca, menulis dan menghitung bahkan mereka didiagnosis mengalami diseleksia. Namun ketika mereka sudah menemukan cara belajar yang tepat maka dunia akan terpana menyaksikan kehebatan mereka. (Lilih Pamugarsari, S. Psi) Sumber : Right-Brained Children in a Left-Brained World, Unlocking the Potential of Your ADD Child, Laurie Parson dan Jeffrey Freed

Leave a Comment